Halo pembaca yang budiman, sudah lama sekali aku tidak menyapa. Apa kabarnya? Semoga selalu sehat ya!
Aku menulis ini dalam perjalanan pulang, pukul 17.45 di kereta api lokal tujuan Padalarang-Rancaekek. Rencananya aku ingin membeli tiket keberangkatan pukul 16.50, tetapi karena ketidaktahuanku bahwa pembelian tiket kereta ditutup 10 menit sebelum pemberangkatan, akhirnya aku membeli tiket keberangkatan pukul 17.20. Namun sayang sekali, hal yang tidak diharapkan terjadi, kereta ternyata mengalami keterlambatan, jadilah aku baru duduk di kereta di jam sekarang.
Kejadian sederhana tadi mengingatkanku bahwa seringkali hidup tidak berjalan sesuai dengan yang kita bayangkan. Alih-alih bisa pulang lebih cepat, nyatanya malah semakin terlambat.
Pembaca yang budiman, adalah hal yang tidak menyenangkan bukan ketika yang terjadi di kehidupan kita tidak sesuai dengan yang sudah direncanakan? Walaupun sekuat tenaga kita berusaha untuk mengejar hal kita inginkan, namun ketika bukan itu takdir kita, apalagi yang bisa kita perbuat?
Hidup melaju ke arah yang sudah Allah Swt gariskan. Lalu muncul pertanyaan yang mendasar, apakah manusia diberi keleluasaan untuk ikut serta berperan menentukan takdir hidupnya?
Melihat dari proses kehidupan yang sudah berjalan, manusia memang diberi kebebasan untuk memilih dan berusaha. Akal, kehendak dan usaha adalah ruang yang Allah Swt anugerahkan untuk umat manusia. namun hasil akhirnya ketetapan Allah Swt-lah yang berlaku. Dan begitulah keseimbangan antara usaha dan takdir terjadi, kita manusia berusaha sebaik mungkin untuk menjemput takdir terbaik dari-Nya. Karena bisa jadi, dari peristiwa yang sudah terjadi, meski itu tidak sesuai dengan yang kita harapkan, justru kita mendapatkan hikmah yang patut untuk kita renungkan. Dari sanalah kita belajar, bertumbuh, dan menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Berprasangka baik kepada Allah itu lebih menenangkan daripada kita larut dalam penyesalan dan kekesalan.
Komentar
Posting Komentar