Langsung ke konten utama

30 HARI BERCERITA | 01. Bismillah, mulai yuk!


Assalamu'alaikum, pembaca yang budiman. Selamat pagi di hari yang cerah ini ya, selamat beraktivitas dan jangan lupa bahagia. Oh iya, untuk setiap aktivitas yang kita lakukan ada baiknya kita niatkan sebagai media untuk beribadah kepada Allah SWT, InsyaAllah berkah, dan semoga Allah mudahkan jalan kita semua. Aamiin.

Hari ini saya akan memulai sesuatu yang sejak lama ingin saya lakukan, yakni menulis secara terus menerus tanpa ada jeda barang sehari pun. Awalnya ragu sih untuk memulai, takut gak bisa. Lah gimana saya mau nulis di blog yang mesti panjang, wong bikin caption satu paragraf aja kadang susahnya setengah mati. Belum lagi mengatur mood yang kadang bikin jengkel sendiri, hari ini semangat nulis, besoknya hmmm ga tau deh. Hehe. Eh tapi, kalau ga dimulai sekarang mau kapan lagi? Toh sejak dulu saya hanya terperangkap pada sesuatu yang berupa ketakutan saya saja. Jadi, dari pada bersembunyi dibalik kelemahan saya, lebih baik saya mulai tuk melangkah.

So, let's start!!!

Jadi gini, semangat saya menulis terinspirasi dari akun Instagram @30haribercerita. Sebenarnya akun instagram saya sudah lama saya tutup, selain menguras quota, isinya juga kadang ga penting-penting amat. Tiap hari saya hanya disibukkan dengan melihat instastory orang-orang yang saya follow yang kadang saya mikir, "terus gunanya buat saya apa ya?" Eh ada sih gunanya, saya kan jadi tahu kondisi teman-teman yang lagi sibuk beraktivitas, saya do'akan ya semoga urusan teman-teman selalu dimudahkan. Nah kembali ke @30haribercerita, saya ga tau tuh kalau di instagram ternyata banyak event yang keren banget buat penulis pemula seperti saya, salah satunya adalah @30haribercerita. Jadi, para peserta event ini diwajibkan untuk menulis mengenai tema yang sudah mereka atur selama 30 hari tanpa putus. Kan keren.

Terus saya taunya dari mana?

Dari teman saya yang Alhamdulillah dia diberi kesempatan untuk menulis buku. Disela-sela testimony-nya dia bilang "untuk melatih keistiqomahannya menulis, dia ikut event @30haribercerita..." saya mulai deh kepoin akun sosmednya dia, saya cari-cari dan Alhamdulillah ketemu. Tapi saya dibikin patah hati soalnya event itu cuma dibuka satu tahun sekali, tiap bulan Januari. Jadi, kandas deh harapan saya untuk ikut berpartisipasi. Saya harus nunggu sampai Januari tahun depan.

Walaupun dibikin kecewa karena ga bisa ikutan, ga ada salahnya saya mengadaptasi ide brilian @30haribercerita di blog pribadi saya ini, sebab saya ingin terus melatih jari tangan saya agar terus semangat menulis dan menebar manfaat untuk orang lain. Soalnya saya sering banget terinspirasi dari tulisan teman-teman saya yang mereka post di Facebook atau twitter. Misalnya saya lagi galau atau iman saya lagi kendor, dari tulisan-tulisan sederhana mereka saya menemukan semangat untuk tetap optimis menjalani hari. Dan saya ingin seperti mereka, walaupun bagi saya menulis itu bukan sesuatu yang mudah, terlampau sulit malah, sebab saya harus mencari materi yang tepat untuk saya tulis, mencari-cari referensi yang sesuai dengan materi yang ingin saya tulis, dan berbagai kendala lainnya yang selalu berhasil mematikan semangat saya untuk menulis. Dan yang paling pahit adalah saya lupa bahwa ada Allah yang selalu membimbing langkah hamba-Nya yang ingin berusaha. Ada Dia yang akan memudahkan segalanya.

Dari berbagai perenungan itulah saya pupuk rasa optimis saya agar bisa istiqomah menulis sampai tiga puluh hari ke depan. Iya, saya akan mulai dan moga Allah ridho.. Bismillah.. stay tune ya!

Salam hangat,

Henim 🌱

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUDAYA | KESELARASAN JAMPÉ UBAR HATÉ DENGAN HADIST NABI (tentang kuatnya doa orang yang teraniaya)

Oleh: Heni Meliyanawati Tahukah anda bahwa Desa Ciparakan yang terletak di Kecamatan  Kalipucang, Pangandaran  merupakan gudangnya ilmu  mantra ?  Di desa ini  berbagai jenis  mantra  mudah sekali ditemukan dan ternyata masyarakatnya pun masih menggunakan  mantra dalam kehidupannya sehari-hari. M ulai  dari mantra yang digunakan untuk memulai suatu pekerjaan ( Jangjawokan ), mantra untuk menyembuhkan penyakit ( JampĂ© ), mantra dalam urusan menguasai jiwa yang lain ( Asihan ), mantra agar memiliki kekuatan ( Ajian ), mantra agar tidak diganggu oleh bangsa jin ( Singlar ), dan mantra yang digunakan untuk keselamatan ( Rajah ). Mantra sebagai salah satu karya sastra puisi  buhun  (kuno) lahir dalam masyarakat Sunda primitif. Menurut  Hauser (dalam Faruk, 2013:12), kesusastraan zaman primitif ini terbagi menjadi dua, yakni ketika masyarakat masih dalam pola produksi sebagai masyarakat berburu, misalnya, seni cenderung m...

Belajar dari Ketetapan

Halo pembaca yang budiman, sudah lama sekali aku tidak menyapa. Apa kabarnya? Semoga selalu sehat ya! Aku menulis ini dalam perjalanan pulang, pukul 17.45 di kereta api lokal tujuan Padalarang-Rancaekek. Rencananya aku ingin membeli tiket keberangkatan pukul 16.50, tetapi karena ketidaktahuanku bahwa pembelian tiket kereta ditutup 10 menit sebelum pemberangkatan, akhirnya aku membeli tiket keberangkatan pukul 17.20. Namun sayang sekali, hal yang tidak diharapkan terjadi, kereta ternyata mengalami keterlambatan, jadilah aku baru duduk di kereta di jam sekarang. Kejadian sederhana tadi mengingatkanku bahwa seringkali hidup tidak berjalan sesuai dengan yang kita bayangkan. Alih-alih bisa pulang lebih cepat, nyatanya malah semakin terlambat. Pembaca yang budiman, adalah hal yang tidak menyenangkan bukan ketika yang terjadi di kehidupan kita tidak sesuai dengan yang sudah direncanakan? Walaupun sekuat tenaga kita berusaha untuk mengejar hal kita inginkan, namun ketika bukan itu takdir kita,...

RINGKESAN BABAD PANJALU

Prabu Borosngora téh salah sahiji raja Panjalu. Kagungan putra dua, nyaéta Radén Aria Kuning sareng Radén Aria Kancana. Nalika ngarasa meujeuhna écag ngeureunan palay, marén muru ngabagawan, anjeunna milih Radén Aria Kuning pikeun nuluykeun, manjangkeun lalakon Panjalu. Sang Prabu mungkur tatan-tatan ngabagawan miang ka Jampang kalih mulawarga, kalebet Radén Aria Kancana. Radén Aria Kuning jeneng jadi Raja, mingpin rahayatna kalayan wijaksana. Panjalu tingtrim kertaraharja. Hiji waktu anjeunna aya karep palay ngabedahkeun Situ Léngkong, tuluy ngutus mantri pikeun ngangkir ramana ka Panjalu. Hanjakal Prabu Borosngora nu tos sepuh teu tiasa nyumponan pangangkir putrana. Prabu Borosngora laju ngutus Radén Aria Kancana pikeun ngawakilan anjeunna. Sadugina di tapelwates dayeuh, Radén Aria Kancana katut ponggawa ngantos dipapagkeun ku rakana. Orokaya Radén Aria Kuning kalah sukan-sukan ngala lauk. Ningal polah rakana kitu, Radén Aria Kancana bendu tuluy ngaburak-barik dayeuh nep...